Oleh: anekadunia | Selasa, 29 Januari 2008

KORBAN MENINGGAL KE-100 AKIBAT FLU BURUNG DI INDONESIA

Sumber : BBC News, 28 Januari 2008 – 23.44 WIB

KORBAN FLU BURUNG KE-100

Korban yang meninggal dunia akibat flu burung di Indonesia mencapai 100 orang, hampir separuh dari jumlah kematian flu burung di seluruh dunia.

Seorang wanita 23 tahun dari Jakarta Timur dan seorang bocah laki-laki berusia 9 tahun dari Depok meninggal dunia pada hari Minggu namun baru dikukuhkan hari ini sebagai kasus flu burung, kata Joko Suyono dari Pusat Penanganan Flu Burung Nasional.

Sejak virus H5N1 muncuk di Asia Tenggara pada akhir tahun 2003, penyakit ini telah menelan lebih dari 220 korban jiwa di seluruh dunia. Dan Indonesia adalah negara dengan jumlah korban terbesar akibat flu burung dan pemerintah kesulitan menanggulangi penyebaran virus ini.

“Wanita itu meninggal kemarin [Minggu] tetapi kami baru menerima hasilnya bahwa dia positif mengidap flu burung,” kata Suyono kepada kantor berita AFP. “Jumlah total kematian saat ini adalah 100 orang dari 124 kasus positif.”

Hampir semua penderita flu burung diduga tertular penyakit ini melalui kontak dengan unggas yang terkena virus H5N1. Namun para ilmuwan khawatir virus ini bisa bermutasi menjadi bentuk yang mudah ditularkan dari manusia ke manusia, yang akan memicu pandemi serta berpotensi mengancam jutaan nyawa penduduk di seluruh dunia.

Oleh: anekadunia | Senin, 28 Januari 2008

Suharto Tiada … Cape Deh !!!

Memang almarhum orang besar. Karena pro kontra yang muncul pada sosok beliaupun masih berlanjut meski sudah meninggal.

Banyak komentar di media massa buat saya capek. Karena saya memang bukan pengamat politik, bukan orang yang mampu berikan analisa hukum dst.

Saya hanya salah satu warga Indonesia yang pernah merasakan era Orba dan Pasca Orba. Kalau mau dibandingkan … enakan mana sih ? Mungkin karena saya masyarakat biasa, jawabnya enakan masa Orba kali ya?! ;)

Oleh: anekadunia | Minggu, 27 Januari 2008

DUIT BALITA

Saya mengawali dengan 1 kejadian di suatu warung mie.
Meskipun warung tersebut “hanya“ dengan tenda dan buka malam hari
karena memanfaatkan halaman parkir 3 buah toko sekaligus
Tapi pengunjungnya berjubel, dan harus bersiap menunggu sampai pesanan datang.

Bukan tentang ramainya, bukan pula tentang pelayanannya yang relatif cepat
Bukan pula pada kemampuan daya ingat pelayannya (karena semua pesanan secara lisan)
Tetapi istilah yang digunakan saat ada pesanan dengan catatan “tidak pedas”
Warung itu menggunakan istilah “balita” (misal : nasi goreng balita, capcay balita dsb)

Mungkin bukan hal yang unik, namun istilah “balita” tersebut menginspirasi saya
untuk menempelkannya pada kata “uang”, so jadi “uang balita”
Bukan dengan terjemahan sebagaimana makanan di atas, melainkan uang kita mestinya selalu seperti balita.
Uang yang senantiasa dalam pertumbuhan dan tidak sekedar tumbuh melainkan tumbuh dan berkembang dengan baik.
Dengan kata lain jangan sampai kita memiliki “uang manula”, yang makin hari makin dimakan usia dan akhirnya tiada.

Banyak cara untuk menjadikan uang kita sebagai “uang balita”.
Salah satunya bergabung di milist tertentu yang berbincang tentang bisnis atau nge-link ke blog yang ngomongin duit ;) dsb. Setidaknya kita bisa saling bertukar pikiran, saling memberi informasi, saling menginspirasi, saling bekerja sama dalam “posyandu …. “ untuk merawat “balita” kita.
Akhirnya kita pasti akan jadi manula, tapi semoga uang kita tetaplah sebagai balita.

Oleh: anekadunia | Sabtu, 26 Januari 2008

Sekilas tentang Kerangka Kontrol Pemetaan di Indonesia

Saya menulis sebuah tulisan pendek tentang Sejarah Kerangka Kontrol Pemetaan di Indonesia.

Tulisan lama (tahun 2005) yang saya gunakan sebagai materi kuliah di STPN (Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional) Yogyakarta.

Download Link

Oleh: anekadunia | Sabtu, 26 Januari 2008

Multi Profesi … Ekspresi Syukur atau … ?

Saat saya memperkenalkan diri di blog ini. Seperti biasa, sebagaimana kalau habis bicara atau bertindak, saya kembali “menengok ke belakang” tentang kebenarannya.

Multi Profesi (bukan serabutan lo) yang saya lakukan saat ini … benarkah sebagai ekspresi rasa syukur akan karunia potensi diri, atau semata-mata karena tuntutan ekonomi?

Andai pada satu profesi ternyata kita mampu menunjukkan eksistensi dan ada pengakuan publik tentang itu. Di sisi lain hal tersebut mendatangkan rejeki berlimpah. Apakah kita akan melirik profesi lain?

Bagaimana pula halnya jika memang ada kemampuan lain yang kita miliki, tetapi karena alasan “sudah cukup” atau bahkan “sudah berlebih” kita tidak mau mengeksplorasi potensi itu.

Terus bagaimana dengan ekspresi syukur kita ?

Atau … ????

Meskipun belum tuntas saya tulis … gak ada salahnya saya tunggu komentar anda !!!

Kategori